Skip to content

Pesan Kaos Sablon Jogja

pesankaosjogja.com

Bikin Kaos Keren

Mengenal Kebaya, Pakaian Tradisional Kekayaan Bangsa

Kebaya secara etimologi berasal dari bahasa Arab yaitu abaya yang berarti pakaian. Terlepas dari namanya yang mengandung unsur bahasa Arab beberapa sejarah mencatat bahwa kebaya diperkenalkan lewat bangsa Portugis. Pertama kali bangsa Portugis mendarat di Asia Tenggara kebaya merujuk pada pakaian atasan atau blus yang dikenakan wanita Indonesia abad ke-15 dan ke-16 M.

Catatan sejarah lain berpendapat bahwa kebaya berkaitan dengan pakaian tunik perempuan pada dinasti Ming di China. Sementara itu pada masa penjajahan Belanda, kebaya digunakan sebagai busana resmi wanita Eropa dengan bahan khas tenun mori.

Pada aba ke-19 kebaya resmi menjadi pakaian bagi semua kelas sosial, bangsa Pribumi maupun Belanda. Namun kebaya pada masa penjajahan Jepang mengalami kemrosotan status. Kebaya diasosiasikan sebagai pakaian yang dikenakan oleh pribumi dan pekerja paksa perempuan.

Belalunya waktu hingga masa kemerdekaan, kebaya dan kain batik nilai dan statusnya kembali naik menjadi simbol perjuangan dan nasionalisme.

Dibalik sejarah kebaya yang sudah ada sejak zaman sebelum penjajahan, berikut penjelasan filosofi dari kebaya:

1. Pancaran kelembutan = Filosofi ini memiliki arti bahwa perilaku wanita harus serba lemah-lembut.

2. Lemah gemulai = Kebaya selalu dikenakan bersama dengan memakai kain jarik yang melilit tubuh sebagai bawahan. Lilitan kencang kain jarik membuat tubuh wanita pemakai sulit bergerak dengan cepat. Dengan kebaya wanita digambarkan dengan pribadi yang lemah gemulai.

3. Bisa menyesuaikan diri = Bentuk potongan kebaya yang menyesuaikan bentuk lekuk tubuh, membuat pemakainya harus menyesuaikan agar bisa membawanya dengan nyaman. Dalam kehidupan nyata, wanita dilatih untuk bisa menyesuaikan diri dengan segala keadaan.

4. Simbol kesabaran = Pemakaian kebaya kerap kali diikuti dengan stagen, sebuah kain panjang yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Kain ini menyimpan nilai-nilai luhur yang di dalamnya erat kaitannya dengan simbol kesabaran. Kalau dalam filosofi bahasa Jawa ini bisa memiliki makna dowo ususe yang berarti sabar.

 

Sumber: m. kumparan. com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat